Jagung Hibrida Modern Lebih Tahan terhadap Stres Nitrogen dan Kondisi Tanam yang Rapat

Tony Vyn. Kredit: Purdue Agricultural Communication/Tom Campbell

Jagung hibrida modern menghasilkan materi tanaman yang lebih banyak dan mengambil jumlah nitrogen rata-rata yang sama dengan varietas sebelumnya, meskipun menjadi dalam kondisi penanaman yang lebih rapat dan ketersediaan nitrogen yang kurang per tanaman, demikian temuan purdue university.

Dalam sebuah analisis dari 86 percobaan lapangan, para ahli agronomi menemukan bahwa jagung hibrida yang dirilis setelah tahun 1990 terbukti lebih tangguh dari pendahulunya dari beberapa segi. Hibrida modern dapat mempertahankan hasil per-tanamannya dalam lingkungan dengan nitrogen yang rendah, dapat bangkit kembali dari stres tengah musim dan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengambil nitrogen setelah bunga betina (silking), bahkan saat menderita kekurangan nitrogen selama berbunga.

Studi ini menyarankan bahwa menyisakan sebagian pupuk nitrogen untuk diberikan belakangan dalam musim tersebut bisa menjadi taruhan yang baik bagi petani, kata Tony Vyn, profesor agronomi.

“Ini seperti asuransi,” katanya. “Sebelumnya, menahan sebagian nitrogen untuk digunakan belakangan bisa dianggap sebagai tindakan berisiko – Anda tidak ingin secara sengaja menyebabkan kekurangan nitrogen Tapi makalah ini menunjukkan bahwa dengan hibrida modern, risiko itu lebih rendah..”

Nitrogen merupakan blok pembangun penting protein tanaman dan memainkan peran penting dalam meningkatkan hasil biji. Nitrogen juga dikenal mobile, kata Sarah Mueller, mahasiswa doktor dalam agronomi dan penulis pertama studi tersebut.

Mahasiswi program doktor agronomi, Sarah Mueller mempelajari bagaimana jagung hibrida modern menanggapi stres nitrogen. Kredit:Purdue Agricultural Communication/Tom Campbell

“Sekali nitrogen berada di tanah, sejak itulah anda mulai kehilangan nitrogen,” katanya.

Petani ingin mempertahankan pupuk mahal di ladang dan tanamannya dan mencegah hilangnya kelebihan nitrogen ke atmosfer dan sistem perairan di mana dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Tapi sinkronisasi aplikasi nitrogen dengan serapan nitrogen oleh tanaman masih menjadi tantangan.

Ulasan Mueller dan Vyn menawarkan wawasan berharga bagaimana jagung hibrida modern berbeda dengan varietas-varietas sebelum tahun 1990 di serapan nitrogennya dan responnya terhadap kekurangan nitrogen. Dengan memahami perbedaan ini kiranya dapat membantu petani dalam meningkatkan hasil panen jagungnya dengan memaksimalkan akumulasi nitrogen dan menerapkan pupuk nitrogen dengan lebih efisien.

Studi ini menunjukkan hibrida modern melakukan lebih banyak hal : hibrida modern dapat mempertahankan hasil biji per tanaman bahkan ketika ditanam dengan kerapatan tanaman yang lebih tinggi daripada hibrida-hibrida pendahulnya – dengan kerapatan rata-rata per acre 30.000 tanaman dibandingkan dengan 20.000 – , meskipun dosis aplikasi pupuk nitrogen rata-rata tetap sama.

“Tanaman ini mampu mempertahankan hasil dalam menghadapi stres kepadatan/ kerapatan tanaman dan stres nitrogen,” kata Mueller. “Itu cukup mengesankan dan cukup berbicara banyak tentang keuntungan hibrida modern  dalam hal  ketahanannya secara keseluruhan.”

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hibrida modern mengambil sejumlah besar nitrogen baru dengan berkembangnya bijinya. Hibrida modern mengambil sekitar 36 persen total nitrogennya setelah silking, dibandingkan dengan sekitar 30 persen dalam hibrida-hibrida sebelumnya.

Serapan nitrogen akhir musim oleh hibrida modern menimbulkan pertanyaan tentang apakah aplikasi pupuk nitrogen perlu dilakukan secara bertahap ataukah aplikasi sekali di awal musim. Ini menjadi pilihan yang layak bagi petani.

“Perubahan genetik yang mendasar ini bisa memberikan kita kesempatan untuk lebih fleksibel dalam mengatur waktu aplikasi nitrogen,” kata Vyn. “Kami sedang meneliti  lebih lanjut tentang hal ini karena mungkin ada keuntungan dalam efisiensi pupuk nitrogen yang mungkin dapat meningkatkan produktivitas jagung dan bermanfaat bagi lingkungan.”

Vyn dan Mueller memperingatkan bahwa petani tidak boleh mengebiri aplikasi nitrogennya, dengan mempercayai bahwa hibrida modern dapat melakukan pemulihan hara tersebut. Melainkan berpikir tentang bagaimana menyisakan sebagian pupuk nitrogen untuk digunakan belakangan, karena ini mungkin terbukti menguntungkan baik dalam kondisi pertumbuhan yang optimal maupun yang merugikan.

Empat puluh tiga persen dari percobaan yang dianalisis berada di Amerika Serikat, dan 32 persen di Cina, dan sisanya tersebar di seluruh dunia.

Sumber:
Modern Corn Hybrids More Resilient To Nitrogen Stress, Crowded Planting Conditions

This entry was posted in Berita Pertanian and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *