Pertanian Organik: Apakah “Pertanian Organik” Benar-Benar Lebih Berkelanjutan?

Penulis / Editor: Thomas Richter * / Dr. Ilka Ottleben

Dibandingkan dengan pertanian konvensional, budidaya makanan organik melalui pertanian organik umumnya dianggap lebih ramah terhadap manusia, hewan, lingkungan dan iklim. Tapi apakah benar seperti itu? Sebuah studi oleh Universitas Göttingen sekarang menunjukkan bahwa hanya kombinasi teknik budidaya ekologis dan konvensional yang dapat menjamin pertanian berkelanjutan secara global.

Dibandingkan dengan pertanian industri, budidaya makanan organik umumnya dianggap lebih ramah terhadap manusia, hewan, lingkungan dan iklim. (Gambar: domain publik)

Göttingen – Sebuah studi oleh Universitas Göttingen menunjukkan bahwa hanya kombinasi teknik budidaya ekologis dan konvensional yang dapat menjamin pertanian berkelanjutan secara global. Ekonom pertanian meneliti dampak pertanian organik terhadap lingkungan, iklim dan kesehatan di berbagai belahan dunia. Mereka menemukan bahwa budidaya makanan organik membutuhkan terlalu banyak lahan subur untuk memiliki dampak positif pada keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Selain itu, tidak cocok untuk ketahanan pangan di negara-negara miskin. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Artikel | Tinggalkan komentar

Budidaya Padi: Dengan Besi Melawan Arsen

Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia. Tetapi sering mengandung arsen anorganik dan logam berat kadmium, yang keduanya berpotensi karsinogenik (menimbulkan kanker). Peneliti Austria telah menemukan solusi sederhana untuk masalah ini, yaitu besi.

Telah lama diketahui bahwa butir beras dari daerah tumbuh tertentu di dunia dapat semakin mengandung arsen anorganik dari lingkungan. Semi-logam dapat masuk ke dalam tanaman melalui kandungan arsen di tanah atau air di ladang yang tergenang, yang digunakan untuk irigasi.

Nilai-nilai Batas Sejak 2016

Di Eropa, batas nilai kandungan arsen anorganik dalam beras dan produk beras telah berlaku sejak 2016. Bahkan peraturan yang lebih ketat berlaku untuk makanan anak kecil. Nilai maksimum 0,10 mg / kg ditetapkan di sini. “Karena batasnya yang rendah, bahan baku berkualitas tinggi sangat diminati, terutama untuk makanan bayi, tetapi sulit ditemukan,” jelas Jörg Feldmann, ahli kimia lingkungan di Universitas Graz. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Artikel | Tinggalkan komentar

Terobosan RNA Menciptakan Tanaman Yang Dapat Menghasilkan 50% Lebih Banyak Kentang, Beras

Perubahan genetik yang menargetkan RNA dapat menumbuhkan tanaman yang menghasilkan lebih banyak makanan secara signifikan dan menunjukkan peningkatan toleransi kekeringan, kata para ilmuwan dari Universitas Chicago, Universitas Peking, dan Universitas Guizhou

Memanipulasi RNA dapat memungkinkan tanaman memberikan hasil yang lebih banyak tanaman secara dramatis, serta meningkatkan toleransi kekeringan, kata sekelompok ilmuwan dari Universitas Chicago, Universitas Peking, dan Universitas Guizhou.

Dalam pengujian awal, dengan menambahkan pengkodean gen protein yang disebut FTO baik ke tanaman padi maupun  kentang, ternyata meningkatkan hasil sebesar 50% dalam uji lapangan. Tanaman tumbuh secara signifikan lebih besar, menghasilkan sistem akar yang lebih panjang dan lebih mampu mentolerir cekaman kekeringan. Analisis juga menunjukkan bahwa laju fotosintesisnya meningkat. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Artikel | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Petani padi Benggala Barat melihat titik terang di Afrika

Kolkata: Para petani padi dari Negara Bagian Benggala Barat, produsen beras terbesar India, sedang menjajaki pasar Afrika untuk mengekspor produk mereka, menyusul penurunan permintaan dari Bangladesh. “Kami sedang mengincar Afrika Selatan dan Barat untuk mengekspor beras kami yaitu beras varietas G1or Swarna Laghu,” kata Subrata Mondol, sekretaris jenderal Asosiasi Penggilingan Padi Distrik Burdwan. Varietas beras yang umum tersedia di pasar grosir harganya Rs 25 per kg. “Kami berhubungan dengan agen yang menangani negara-negara Afrika. Kami telah mengirim sampel beras ke negara-negara Afrika. Kami berharap bisa segera mendengar kabar dari mereka, “kata Mondol. Langkah tersebut berlanjut bahkan saat ekspor beras ke Bangladesh menyusut pada bulan November, yang telah menurunkan harga di pasar domestik. Harga beras telah melonjak lebih dari 20 persen sejak bulan September ketika Bangladesh mulai mengimpor beras setelah banjir mempengaruhi hasil panennya.

Sumber : Bengal rice farmers see a bright spot in Africa

Ditulis pada Artikel | Tinggalkan komentar

Vietnam Belum Menabur Benih Padi Rendah Karbon

Di Việt Nam, emisi gas rumah kaca (GRK) dari budidaya padi diperkirakan mencakup lebih dari setengah emisi oleh produksi pertanian secara keseluruhan.- Foto nongnghiep.vn

HÀ NỘI – Investasi dalam model pertanian rendah karbon dapat mempercepat reformasi industri padi, meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan petani dan memastikan pembangunan berkelanjutan, kata seorang pejabat senior.

Ini juga akan membantu negara tersebut untuk mengakses dana perubahan iklim untuk pertumbuhan hijau, Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Lê Quốc Doanh mengatakan pada konferensi tersebut, yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian dan Program Penelitian tentang Perubahan Iklim, Pertanian dan Ketahanan Pangan di Asia Tenggara, di Hà Nội pada tanggal 1 Desember. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Artikel | Tinggalkan komentar

Varietas Padi Baru Menjadi Sorotan

Padi Japonica baru di Kamboja tetapi sudah sangat populer di Cina. KT/Chor Sokunthea

Kerajaan Kamboja dan China akan menandatangani sebuah kesepakatan dalam waktu dekat untuk mendukung penelitian tentang pengembangan varietas padi baru di kerajaan tersebut, menurut Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) Kamboja.

MoU yang diusulkan, yang sedang dinegosiasikan oleh MAFF dan mitra China-nya, akan meletakkan peraturan untuk kerja sama antara kedua negara dalam melakukan penelitian tentang varietas padi yang dikenal dengan nama oryza sativa japonica.

Tujuan utamanya adalah menanam tanaman varietas tersebut di Kamboja dan mengekspornya ke China, di mana permintaan akan varietas tersebut sangat besar.

“Kesepakatan tersebut akan membantu kami melakukan penelitian yang diperlukan untuk menanam padi japonica di Kamboja,” kata Hean Vanhan, Direktur Jenderal MAFF.

Lanjutkan membaca

Ditulis pada Artikel | Tinggalkan komentar

Para ilmuwan berhasil mengakali fotosintesis untuk meningkatkan hasil panen

Seperti yang diprediksi model komputer, tanaman yang dimodifikasi secara genetik lebih mampu memanfaatkan sinar matahari terbatas yang tersedia saat daunnya berada di tempat teduh, lapor para peneliti. Kredit: Julie McMahon

Para peneliti melaporkan dalam jurnal Sains bahwa mereka dapat meningkatkan produktivitas tanaman dengan meningkatkan level dari tiga protein yang terlibat dalam fotosintesis. Dalam uji coba lapangan, para ilmuwan melihat kenaikan produktivitas dari 14 persen menjadi 20 persen  pada tanaman tembakau rekayasa (dimodifikasi). Penelitian tersebut menegaskan bahwa fotosintesis dapat dibuat lebih efisien untuk meningkatkan hasil tanaman, yang mana merupakan suatu hipotesis yang pernah diragukan oleh sebagian komunitas ilmiah. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Artikel | Tag , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Studi Menunjukkan Bahwa Tanaman Hasil Rekayasa Genetik Ternyata Aman

Kredit: Departemen Pertanian SC

22 September, 2016 oleh Sara Lajeunesse

Tanaman-tanaman rekayasa genetis ternyata tidak berbeda dengan tanaman-tanaman konvensional dalam hal risiko bahayanya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, demikian menurut sebuah laporan yang dipublikasikan pada bulan Mei 2016 oleh the U.S. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine.

Leland Glenna, associate professor sosiologi dan sains, teknologi dan masyarakat pedesaan di Penn State’s College of Agricultural Sciences, menjabat pada komite yang menyusun laporan tersebut.

“Komite studi ini tidak menemukan bukti kuat mengenai perbedaan risiko terhadap kesehatan manusia antara tanaman rekayasa genetis yang sekarang dikomersialkan —khususnya kedele, jagung dan kapas—dengan tanaman yang dikembangbiakkan secara konvensional. Komite ini juga tidak menemukan bukti sebab-akibat yang konklusif mengenai permasalahan lingkungan dari tanaman rekayasa genetis,” kata Glenna. “Temuan-temuan ini tidaklah berarti untuk ditafsirkan bahwa masih tidak ada tantangan-tantangan terkait dengan tanaman konvensional dan tanaman rekayasa genetis, bahwa tanaman rekayasa genetis yang ada sekarang dan tanaman-tanaman konvensional tidaklah berbeda dalam hal risikonya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.”

Glenna, seorang sosiolog yang mengkaji mengenai bagaimana lembaga-lembaga sosial mempengaruhi agenda-agenda penelitian ilmiah dan, seorang yang selama 15 tahun telah mengkaji dampak sosial dari ilmu dan teknologi pertanian, mencatat bahwa tanaman-tanaman rekayasa genetis secara umum digambarkan baik sebagai solusi sekaligus sebab dari masalah-masalah sosial dan ekonomi.

“Tanaman-tanaman rekayasa genetis umumnya juga digambarkan seolah-olah hanya terdapat dua pihak dalam perdebatan ini : yaitu apakah anda memihak atau menentang tanaman tersebut,” katanya. “Namun teknologi-teknologi baru membawa baik janji maupun ancaman; apa yang bagi seseorang menjanjikan mungkin menjadi ancaman bagi yang lain.”

“Namun demikian, penelitian yang ada masih belum mencukupi untuk dapat membuat pernyataan yang konklusif tentang dampak sosial dan ekonomi dari teknologi-teknologi tanaman rekayasa genetis. Harapan saya orang-orang yang membaca dan membahas laporan ini tidak terjebak pada paradigna yang ada, namun sebaliknya mengakui adanya kerumitan dan nuansa-nuansa tanaman rekayasa genetis.”

Para peneliti tersebut menggunakan data yang dipublikasikan selama dua dekade terakhir yang berasal dari lebih dari 900 publikasi penelitian dan publikasi lainnya untuk mengevaluasi dampak positif dan negatif dari tanaman rekayasa genetis – yaitu tanaman-tanman yang direkayasa secara genetis sehingga tahan terhadap serangga dan herbisida. Para ilmuwan tersebut juga mendengar dari lebih 80 pembicara yang berbeda dan membaca lebih dari 700 komentar dari para masyarakat umum untuk memperluas pemahaman mereka mengenai isu-isu tanaman rekayasa genetis.

Hampir 180 juta hektar tanaman rekayasa genetis ditanam secara global pada tahun 2015, yang secara kasar merupakan 12 persen dari lahan dunia yang ditanami pada tahun itu.

Menurut laporan tersebut, tanaman-tanaman Bt, yaitu tanaman-tanaman yang mengandung gen tahan serangga dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis, meliputi bagian besar dari lahan tanaman rekayasa genetis. Para peneliti tersebut menemukan bahwa mulai dari tahun 1996 sampai 2015, penggunaan jagung dan kapas Bt berkontribusi pada menurunnya penggunaan insektisida sintetis dan kerugian tanaman. Beberapa populasi hama serangga menurun; namun demikian, keanekaragaman serangga naik secara keseluruhan. Ketahanan serangga terhadap protein-protein Bt lambat terbangun, hanya ketika tanaman menghasilkan sejumlah besar protein Bt sehingga dapat membunuh serangga-serangga tersebut. Tingkat-tingkat ketahanan yang merusak benar-benar berevolusi dalam beberapa spesies apabila tidak diikuti strategi-strategi manajemen ketahanan (resistensi).

Tim tersebut menemukan bahwa penggunaan tanaman yang tahan heribisida (tahan glifosat) berkontribusi pada meningkatnya hasil tanaman dengan menurunnya tekanan gulma. Ketika tanaman demikian pertama digunakan, total kilogram herbisida yang diaplikasikan per hektar tanaman per tahun menurun, meskipun penurunan tersebut umumnya tidak berkesinambungan. Beberapa spesies gulma telah berevolusi menjadi resisten terhadap glifosat; namun demikian, tim tersebut mengingatkan bahwa penundaan resistensi tersebut dimungkinkan dengan manajemen gulma terpadu.

Untuk menguji efek tanaman dan makanan rekayasa genetis terhadap kesehatan manusia, tim tersebut mempelajari studi eksperimental hewan dan menemukan kurangnya bukti bahwa hewan mendapat bahaya dengan mengonsumsi makanan yang berasal dari tanaman rekayasa genetis.

“Banyak orang khawatir bahwa mengkonsumsi makanan rekayasa genetis dapat menyebabkan kanker, obesitas dan gangguan seperti spektrum autis dan alergi,” kata Glenna. “Namun, tim tersebut memeriksa sekumpulan data epidemiologi dari waktu ke waktu dari Amerika Serikat dan Kanada, di mana makanan rekayasa genetis telah dikonsumsi sejak akhir 1990-an, dan sekumpulan data yang sama dari Inggris dan Eropa Barat, di mana makanan rekayasa genetis tidak banyak dikonsumsi. Kami tidak menemukan perbedaan di antara negara-negara tersebut dalam masalah-masalah kesehatan tertentu.”

Tim tersebut juga menemukan bahwa pendapatan ekonomi dari tanaman rekayasa genetis telah menguntungkan bagi sebagian besar produsen yang telah menggunakan tanaman ini. Namun, biaya benih rekayasa genetis dapat membatasi penggunaan tanaman rekayasa genetis oleh petani kecil yang miskin sumber daya. Selanjutnya, manfaat ekonomi cenderung bertambah bagi penanam awal. Tim itu menyimpulkan bahwa penggunaan jangka panjang dan luas tanaman rekayasa genetis akan tergantung pada dukungan kelembagaan dan akses ke pasar lokal dan global yang menguntungkan.

Sumber:
Review of studies finds genetically engineered crops are safe

Ditulis pada Artikel | Tag , , , , , , , , | Tinggalkan komentar