Pemuliaan Tanaman, Ilmu Digital – Guna Memenuhi Tuntutan Pangan Dunia

Pemulia tanaman AgCenter LSU, Adam Famoso, kiri, dan Susan McCouch memeriksa persilangan padi Famoso di rumah kaca di Pusat Penelitian Padi AgCenter LSU. (Foto oleh Bruce Schultz, AgCenter LSU)

Para peneliti harus mengintegrasikan ilmu informasi dengan pemuliaan tanaman terapan untuk melayani pertumbuhan penduduk dunia, kata seorang ahli genetika tanaman terkemuka dalam simposium biologi tanaman tanggal 24 Sep 2015.

Inilah “tantangan besar global” yang harus dapat mengatasi peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan, masalah tanah dan air, perubahan iklim, gizi, kesehatan dan keanekaragaman hayati serta keberlanjutan menyeluruh, kata Susan McCouch dari Universitas Cornell.

McCouch, seorang profesor pemuliaan tanaman dan genetika, biologi tanaman, statistik biologi dan biologi komputasi, mengatakan proses tersebut harus mencakup pengumpulan data berbasis komputer ,pembuatan model dan validasi bersama-sama dengan pemuliaan tanaman tradisional.

Pembicaraan McCouch menyusul presentasi pagi singkat oleh para anggota fakultas dan mahasiswa pascasarjana di LSU AgCenter dan LSU yang disponsori oleh Pusat Penelitian Keunggulan dalam Bioteknologi Tanaman dan Pengembangan Tanaman.

Pusat Penelitian itu melibatkan para peneliti dari berbagai jurusan di LSU AgCenter, LSU A & M dan universitas-universitas negeri lainnya, kata Mike Stout, LD Newsom, seorang profesor dalam bidang Manajemen Hama Terpadu di AgCenter Jurusan Entomologi.

Simposium ini merupakan bagian dari kerjasama antara para anggota fakultas AgCenter dan A & M untuk menghasilkan solusi bagi tantangan untuk pertanian, kata Stout.

“Kami meningkatkan kerja sama dengan semua biosains di seluruh universitas-universitas Louisiana,” katanya.

McCouch meminta para peneliti untuk mengembangkan model yang mengintegrasikan informasi digital dengan informasi fisik untuk memprediksi kinerja dalam lini-lini tanaman baru.

“Persoalan mendasar tidak berubah sama sekali, tetapi dapat diatasi melalui teknologi baru,” katanya. “Tidak ada yang bisa melakukannya sendiri. Dibutuhkan banyak kolaborasi. “

McCouch mengunjungi Pusat Penelitian Padi AgCenter LSU dekat Crowley dan berbicara kepada para anggota fakultas di situ.

Susan McCouch dari Universitas Cornell, kiri, meneliti pekerjaan yang dilakukan oleh para peneliti LSU AgCenter Herry Utomo, tengah, dan Ida Wenefrida di laboratorium di Pusat Penelitian Padi AgCenter LSU. (Foto oleh Bruce Schultz, LSU AgCenter)

Adam Famoso, seorang pemulia padi di AgCenter yang bekerja dengan McCouch di Cornell, mengatakan ia mengembangkan peta genetik pertama dari DNA padi. “Dia benar-benar telah memelopori teknologi penanda.”

McCouch mengatakan teknologi informasi mampu menangani volume besar data yang dibutuhkan untuk memproses informasi dalam rangka untuk membuat prediksi-prediksi yang dapat digunakan oleh para pemulia untuk membuat persilangan-persilangan yang sukses.

Teknologi ada untuk memungkinkan melakukan perakitan struktur-struktur genetik tanaman untuk meningkatkan sifat-sifat agronominya, katanya. Ini tidaklah dianggap sebagai rekayasa genetika karena tidak melibatkan masuknya materi genetik asing ke dalam DNA tanaman.

“Kami sudah mengantisipasinya selama 15 tahun, dan ini akan menjadi mainstream,” katanya.

Banyak pekerjaan McCouch di Cornell telah difokuskan pada beras di Asia Tenggara dan Afrika, tapi dia mengatakan bahwa dia ingin mengembangkan hubungan dengan universitas negeri AS untuk menyampaikan karyanya. “Banyak hal yang telah kami kembangkan, sudah matang untuk digunakan,” katanya.

Penggunaan teknologi penanda genetik oleh pemulia tanaman akan diperlukan untuk memenuhi meningkatnya tuntutan pangan dan terbatasnya areal pertanian di negara-negara berkembang, kata McCouch. Lahan dan air yang melimpah di AS akan memungkinkan petani Amerika untuk menghasilkan lebih banyak pangan untuk diekspor ke negara-negara di mana sistem-sistem pertaniannya memberi hasil yang cukup bagi penduduknya yang terus tumbuh.

Beberapa proyek McCouch ini, yang didanai oleh Bill dan Melinda Gates Foundation, dapat mengatasi masalah-masalah di negara-negara dunia ketiga. Misalnya, salah satunya adalah sebuah proyek yang bertujuan untuk mengembangkan padi tahan kekeringan di India, di mana sumber air sering tidak dapat diandalkan. Proyek lainnya adalah bertujuan mengatasi keracunan besi pada padi di Afrika Sub-Sahara.

Sumber:
Plant breeding, digital science – meeting world food demand

This entry was posted in Berita Pertanian and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *