Pilihan SMART bagi Petani Padi Di Lembah Pedalaman Afrika

SMART valley_RRaman_africarice1

“Potensinya ada, tetapi Anda tidak bisa memanfaatkan potensi itu.” Inilah salah satu pernyataan yang paling mengesankan dari Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Norman Borlaug.  Sambutannya mungkin sangat cocok dengan kasus dataran rendah lembah pedalaman di Afrika, yang dikenal memiliki potensi produksi pertanian yang tinggi, namun sampai sekarang sebagian besar tetap belum dimanfaatkan.Namun, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat dan terjadinya perubahan iklim, lembah pedalaman semakin dianggap sebagai keranjang makanan benua masa depan karena umumnya lebih subur dari dataran tinggi dan memiliki ketersediaan air yang lebih tinggi. Wilayah-wilaiyah tersebut terutama sangat penting untuk mewujudkan janji beras Afrika.

Tantangan lembah pedalaman

Tantangan utamanya adalah bagaimana pedalaman lembah dapat secara efisien dan berkelanjutan digunakan untuk meningkatkan produksi beras Afrika. Kuncinya adalah meningkatkan pengendalian air.

Selama bertahun-tahun, sudah banyak usaha telah dilakukan di Afrika Barat, tetapi keberhasilannya sedikit dengan beragamnya lembah pedalaman dan kompleksnya ekosistem serta umumnya sulit untuk dikelola. Beberapa skema pengelolaan air di lembah pedalaman  besar di Afrika Barat pada tahun 1970-an, ditinggalkan atau kurang dimanfaatkan karena ketergantungan pada keahlian asing untuk infrastruktur rekayasa berat. Juga karena kurangnya pengetahuan teknis petani padi di wilayah tersebut.

Tapi yang utama adaah bahwa kegagalan tersebut sering disebabkan kurangnya partisipasi masyarakat lokal dalam seleksi, perencanaan, desain, implementasi, dan penggunaan skema lembah pedalaman.

Harapan baru dengan sistem sawah

Sebuah harapan baru untuk meningkatkan daerah tersebut dalam budidaya padi di lembah pedalaman muncul dengan metode persiapan lahan partisipatif yang relatif sederhana dan murah, dari Asia yang disebut sawah. Sawah adalah kata Indonesia Melayu untuk lahan padi yang diratakan, digalengi, dan digenangi dengan lubang masukan dan keluaran untuk mengendalikan air dan untuk memfasilitasi pengelolaan kesuburan tanah. Meskipun relatif baru bagi Afrika Barat, sawah telah digunakan selama ratusan tahun di Madagaskar.

Sistem sawah diperkenalkan dan diuji pada tahun 1997 di wilayah Ashanti di Ghana dan wilayah Bida di Nigeria oleh ilmuwan Jepang yang bekerja sama dengan mitra penelitian dan pengembangan lokal. Sistem ini membantu meningkatkan persiapan lahan dan penanaman, mengurangi limpasan air dan hilangnya pupuk, dan menjaga lapisan air di lahan untuk membantu mengendalikan gulma.

Lebih dari 20 juta hektar dari 190 juta hektar dataran rendah lembah pedalaman di Afrika dilaporkan cocok untuk sistem sawah. Melihat janjinya, petani di Togo mulai menggunakannya pada tahun 2004.

Pada tahun 2009, dengan dukungan teknis dan keuangan yang kuat dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF), Pusat  Penelitian Padi Afrika (AfricaRice) meluncurkan proyek Sawah, Pasar Akses, dan Teknologi Padi untuk Lembah Pedalaman (SMART-IV)  di Togo dan Benin. Proyek ini dilaksanakan bekerjasama dengan mitra nasional dan non-pemerintah.

Setelah dua tahun yang pertama proyek tersebut, petani tidak banyak mengadopsi sistem sawah konvensional karena daerah yang ditargetkan memiliki pasokan air alami terus menerus, sementara sedikit situs lembah pedalaman di Benin dan Togo dengan pasokan air yang terus-menerus. Ini membatasi ruang lingkup untuk mencapai adopsi besar-besaran dari sistem tersebut.

Para ilmuwan proyek harus memodifikasi dan menyesuaikan sistem tersebut dengan kondisi lokal dari petani kecil tadah hujan.

Alternatif SMART

Pendekatan sawah yang dimodifikasi tersebut diberi nama kode Smart-valleys. Ini juga merupakan nama proyek tindak lanjut untuk SMART-IV yang dikembangkan dan divalidasi di negara-negara proyek tersebut. Pendekatan ini dapat digunakan oleh petani kecil di lembah pedalaman yang sepenuhnya tadah hujan atau di mana tersedia sumber daya tambahan air  untuk irigasi.

Pendekatan Smart-valleys berbiaya murah, mudah ditiru, dan memiliki periode implementasi yang singkat. Kenyataannya, pendekatan tersebut merupakan pilihan cerdas dan bukan intervensi tradisional, yang biasanya mahal dan memakan waktu.

Filosofi pendekatan Smart-valleys adalah bahwa petani lebih mengetahui tanah mereka sendiri daripada orang lain, termasuk para ahli. Petani sepenuhnya terlibat selama proses pengembangan, yang mana akan menciptakan rasa memiliki yang kuat di antara mereka.

“Petani adalah pemain kunci dalam sistem ini; jika tidak, sistem ini tidak akan berkelanjutan, “kata Worou Soklou,  spesialis pengembangan lahan AfricaRice. “Organisasi Petani sangat penting untuk keberhasilan proses Smart-lembah. Tapi syarat pertamanya adalah memastikan bahwa tidak ada masalah dengan kepemilikan lahan. ”

Sander Zwart, koordinator proyek AfricaRice, menjelaskan, “Meskipun pemilihan lokasi didasarkan pada iklim dan data geomorfologi dan menggunakan alat-alat GIS dan penginderaan jauh, namun petani sendirilah yang menyediakan peneliti dengan informasi mengenai tanah lembah pedalaman dan sifat tanaman di lahan tersebut.

“Tapi yang paling penting, para petani memberikan informasi yang memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan sumbu drainase lembah pedalaman dan menempatkan kanal utama dan pematang berdasarkan topologinya,” tambahnya.

Menurut Deputi Direktur Jenderal AfricaRice  Marco Wopereis, keuntungan utama dari pendekatan ini adalah hasil yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah sehingga merangsang petani untuk mulai menggunakan input seperti pupuk mineral,  sehingga meningkatkan produksi padi dalam sistem ini ke suatu tingkat yang sama sekali baru.

SMART valley_RRaman_africarice3Sukses besar

Pendekatan Smart-valleys  telah terbukti cukup berhasil meskipun mengalami kemunduran pada awalnya. Kerja keras para peserta proyek, khususnya petani, terbayar ketika mereka menemukan bahwa hasil panen padi rata-rata lebih dari dua kali lipat dari semula 1,5-2 menjadi  3,5-4,5 ton per hektar pada akhir dari fase pertama proyek.

“Sejak kami menanam padi, kami belum pernah memanen padi dengan jumlah yang sedmikian besar ini,” kata Aboko Daniel, seorang petani padi di Zoungo, Benin. Yang begitu terkesan adalah para petani dengan kenaikan pendapatannya. Berkat pendekatan Smart-valleys, beberapa dari mereka memperluas situnya tanpa bantuan dari luar.  Studi dampak menunjukkan potensi tingkat adopsi sebesar 67%.

“Pada akhir proyek,  ada 139 situs  Smart-valleys yang beroperasi di Benin dan Togo dan sekitar 2.000 petani membudidayakan padi di dalam situs tersebut, yang mana diantara mereka 55% adalah perempuan,” kata Dr Zwart  menyimpulkan prestasi proyek tersebut. “Daerah yang dikembangkan menggunakan pendekatan Smart-valleys luasnya lebih dari 200 hektar di Benin dan 135 hektar di Togo.”

Proyek ini memberikan masukan untuk strategi nasional bagi pengembangan lembah pedalaman di Benin yang sedang dipersiapkan oleh Departemen Pertanian, Peternakan, dan Perikanan.

Peningkatan

Dari awal, proyek menekankan perlunya meningkatkan pendekatan tersebut melalui peningkatan kapasitas teknisi dan petani pemimpin dan melalui situs-situs demonstrasi. Pada akhir proyek, 87 teknisi dan 47 petani pemimpin telah dilatih dalam pendekatan Smart-valley. Situs-situs demonstrasi dikembangkan di enam zona.

AfricaRice dan mitranya telah mengidentifikasi Smart-valley sebagai salah satu teknologi kunci yang akan ditingkatkan dalam hub-hub pengembangan sektor padi yang berfokus pada padi dataran rendah. Sebuah video pelatihan diproduksi dan panduan untuk teknisi lahan sedang dipersiapkan. Setelah petani akrab dengan teknik, mereka kemudian diperkenalkan untuk menggunakan pengolah tanah untuk mempercepat pengembangan lahan.

Menurut Dr. Soklou, pelajaran yang bisa dipetik dari pendekatan ini adalah bahwa, bahkan dengan sarana yang terbatas pun, tidaklah mustahil untuk membawa perubahan yang signifikan di daerah pedesaan di negara-negara Afrika.

Penulis:  Savitri Mohapatra   |  
Mohapatra adalah kepala Pemasaran dan Komunikasi di AfricaRice

This entry was posted in Artikel and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *